Seorang wisatawan menjalani tes usap (swab test) di kompleks Tourist Information Center (TIC) Wanurejo, Borobudur, Magelang, Jateng. (ilustrasi)

Foto: Antara/Anis Efizudin

Swab menyasar pelaku usaha pariwisata dan pemudik yang datang ke DIY.

REPUBLIKA.CO.ID, REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, swab test yang dilakukan pascalibur panjang tidak dilakukan di seluruh destinasi wisata. Sampel yang diambil dari swab test ini diprioritaskan berdasarkan penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 di kawasan destinasi wisata.

Artinya, sampel swab test tergantung dari banyaknya terjadi pelanggaran terhadap protokol kesehatan tersebut. Swab ini sendiri menyasar pelaku usaha pariwisata dan pemudik yang datang ke DIY. “Kita petakan daerah mana yang paling padat dan paling banyak pelanggaran (protokol kesehatan), itu menjadi prioritas,” kata AJi, Ahad (1/10).

Swab ini dilakukan untuk mengetahui penyebaran Covid-19 usai libur panjang di DIY. Sehingga, pencegahan Covid-19 pun dapat dilakukan dengan segera karena penyebarannya dapat diketahui sejak dini. “Supaya kita mengetahui dampak dari membanjirnya pengunjung ke DIY, apakah dengan sekian pengunjung menimbulkan klaster (baru) atau tidak,” ujarnya.

Aji menuturkan, tidak semua wisatawan yang datang ke DIY menerapkan protokol kesehatan dengan ketat dan disiplin. Namun, ada beberapa wisatawan yang kedapatan mengabaikan protokol kesehatan.

Di DIY sendiri, sanksi diberlakukan terhadap wisatawan, masyarakat maupun pelaku usaha yang mengabaikan protokol kesehatan. Sehingga, sampel swab didasarkan atas hasil dari penegakan terkait protokol kesehatan “Hasil dari operasi yang dilakukan Satpol PP menjadi bagian dari data yang kita gunakan untuk dasar pengambilan sampel. Kalau di satu tempat tertentu menurut teman-teman Satpol PP ternyata banyak yang mengabaikan, maka di situ menjadi prioritas  (pengambilan) sampel,” jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*

code