Kaca sebuah restoran yang dipasangi stiker logo halal Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta (ilustrasi). Indonesia dinilai masih harus melakukan riset dan inovasi dalam pengembangan industri halal.

Foto: Republika/Putra M. Akbar

Inovasi dan industri halal tidak akan pernah bisa lepas satu sama lain.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Research and Development (R&D) atau riset dan pengembangan menjadi salah satu tantangan terbesar pengembangan industri halal di Indonesia.

Pakar Halal Internasional, Irwandi Jaswir menyampaikan, tingkat riset dan inovasi Indonesia harus sangat kuat untuk bisa meraih mimpi jadi pusat halal dunia.

“Untuk riset, harus diakui, masih banyak yang harus Indonesia lakukan,” kata Irwandi dalam Halal Talks, Indonesia Pusat Halal Dunia, Why Not? di Jakarta, Kamis (26/11).

Tanpa penguatan di keduanya, akan sulit untuk meraih target dan mempertahankan keunggulan industri halal. Keberhasilan menjadi pusat halal global tergantung pada keberlangsungan riset dan inovasi industri halal itu sendiri. 

Irwandi sendiri bergerak di bidang riset halal di Malaysia. Menurutnya, riset dan inovasi adalah inti pengembangan produk halal masa kini. Mengingat semakin besarnya potensi pasar dan pemangku kepentingan yang ingin masuk ke dalam ekosistem halal global.

“Saat di Malaysia, setiap pekannya banyak delegasi dari negara minoritas Islam yang menjadi partner untuk pengembangan halal, seperti dari Rusia, Korea, Jepang, dan lainnya,” ungkap dia.

Irwandi menceritakan pengalaman menarik saat tim dari Korea meminta sertifikasi halal untuk tanah. Tim tersebut menjelaskan, tanah tersebut digunakan untuk menanam ginseng dan menegaskan tidak pernah dilalui oleh babi sama sekali.

Hal itu menjadi contoh besarnya pasar dan sangat dibutuhkannya peran riset dalam industri halal. Menurutnya, inovasi dan industri halal tidak akan pernah bisa lepas satu sama lain sehingga penguatan adalah jalan yang harus dilalui.

Selain itu, riset terhadap bahan baku halal dan proses juga menjadi titik kritis pengembangan industri halal. Saat ini, mayoritas bahan baku yang beredar di Indonesia masih berasal dari impor. Seperti gelatin yang harus impor ribuan ton per tahun.

“Kami pernah buat kajian bahan baku apa saja yang masih impor, tapi di Indonesia punya potensi penggantinya,” kata dia.

Hasilnya, mayoritas bahan baku sangat memungkinkan untuk dieksplorasi lebih jauh. Indonesia adalah gudang dari potensi bahan mentah yang sangat beragam. Karena itu, peran riset dan pengembangan sangat signifikan untuk membawa bahan-bahan tersebut ke tahap komersialisasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*

code