Ini tentang kembalinya masa muda, di mana alam dan pemuda di dunia ini berhasil hidup berdampingan

Jakarta (ANTARA) – Jelang akhir tahun 2020, saat hampir seluruh rumah mode besar mengubah komunikasi mode mereka menjadi live streaming atau film pendek, Balenciaga justru mencoba cara lain.

Direktur kreatif Balenciaga Demna Gvasalia menggunakan video game sebagai cara berkomunikasi dengan para pelanggan dan buyer, dalam memperkenalkan koleksi terbarunya.

Video game bertajuk “Afterworld: The Age of Tomorrow”, merupakan game petualangan dengan selera fesyen futuristik yang diluncurkan pada Minggu (6/12) waktu setempat.

“Saya tidak suka ide memperkenalkan koleksi lewat film fesyen. Saya merasa itu menjadi hal kuno,” kata Gvasalia dilansir dari laman Vogue.

Baca juga: Perawatan dan kreasi pakaian jadi awal fesyen berkelanjutan


 

Sejumlah model yang dipindai menjadi avatar dalam “Afterworld: The Age of Tomorow” memamerkan sejumlah koleksi Balenciaga untuk Fall 2021. (ANTARA/www.balenciaga.com)
Sejumlah model yang dipindai menjadi avatar dalam “Afterworld: The Age of Tomorow” memamerkan sejumlah koleksi Balenciaga untuk Fall 2021. (ANTARA/www.balenciaga.com)

“Kami mulai mengerjakan ini pada bulan April, karena kami tahu bahwa peragaan busana tidak mungkin dilakukan akibat pandemi,” lanjut dia.

Gvasalia mengatakan dia bekerja sama dengan pengembang video game Unreal Engine, dan membutuhkan ratusan tenaga kreatif untuk bisa menciptakan apa yang disebutnya sebagai proyek petualangan video “volumetrik”.

Dibutuhkan banyak tenaga ahli dengan jam terbang tinggi untuk memindai secara digital para model dan gerakan mereka untuk mengubahnya menjadi avatar video game. Itu semua dilakukan di sebuah studio di Paris.

“Saya meminta para model untuk meniru pose couture, yang ternyata akhirnya terlihat seperti karakter game yang biasa diperkenalkan di awal permainan,” jelas Gvasalia.

Lebih lanjut Gvasalia menjelaskan alasannya memilih video game sebagai alat komunikasi, karena sebagian besar pelanggan Balenciaga kini bermain video game. Apalagi pandemi COVID-19 banyak memaksa orang untuk berdiam di rumah, menjaga jarak sosial, sehingga video game menjadi salah satu cara untuk menghilangkan rasa jenuh.

Baca juga: Tetap trendi dengan produk berkelanjutan yang ramah lingkungan


 

Sejumlah model yang dipindai menjadi avatar dalam “Afterworld: The Age of Tomorow” memamerkan sejumlah koleksi Balenciaga untuk Fall 2021. (ANTARA/www.balenciaga.com)

Kondisi ini kemudian dianggap Gvasalia sebagai satu peluang.

“Ini penting sebagai basis pelanggan barang mewah namun juga kaum muda pecinta game. Mereka bisa memproyeksikan karakter mereka di dunia paralel yang kami ciptakan,” tutur Gvasalia.

Video game ini dapat diunduh secara gratis dan dapat diakses di setiap perangkat elektronik yang tersambung internet. Hal ini disebut Vogue menjadi salah satu alasan untuk menyebut Balenciaga sebagai rumah mode yang unggul dalam menggunakan media multi-platform.

Balenciaga di bawah naungan Gvasalia, dengan gesit berhasil beralih dari platform fisik menuju platform digital untuk menjual koleksi pakaian siap pakai hingga adibusananya tanpa mengalami kendala yang serius.

Baca juga: Tren fesyen “berkelanjutan” di Oscars 2020

Fesyen berkelanjutan yang futuristik

Video game “Afterworld: The Age of Tomorrow” dibangun sebagai proyeksi Gvasalia ke tahun 2031. Gvasalia melihat masa depan di mana orang-orang akan berjuang untuk melalui kecemasan di jaman kegelapan demi mencapai tempat yang lebih baik.

Gvasalia mengintepretasikan perjalanan itu melalui sepatu boots berlapis baja dengan ujung lancip yang digunakan oleh para karakter game, saat mereka beranjak dari pertengahan 2021 menuju 2031.

“Ini tentang kembalinya masa muda, di mana alam dan pemuda di dunia ini berhasil hidup berdampingan,” kata Gvasalia.

Game dimulai di toko Balenciaga di pusat kota –bisa kota apa saja– kemudian orang-orang bertemu di pinggiran kota yang berbeda di sebuah area bawah tanah yang artistik. Para gamers kemudian akan di bawa ke dalam hutan gelap dipandu seekor kelinci putih. Sepintas ini mirip dengan cerita “Alice di Negeri Ajaib”, di mana tokoh Alice mengejar seekor kelinci putih hingga masuk ke dunia yang ajaib.

Baca juga: Ralph Lauren luncurkan “Earth Polo”, busana dari plastik bekas


 

Sejumlah model yang dipindai menjadi avatar dalam “Afterworld: The Age of Tomorow” memamerkan sejumlah koleksi Balenciaga untuk Fall 2021. (ANTARA/www.balenciaga.com)

Lewat game ini Gvasalia membayangkan perubahan estetika berpakaian orang-orang di masa depan, mengingat kaum muda sudah mulai menyadari adanya darurat perubahan iklim. Di sinilah Gvasalia menegaskan adanya fesyen berkelanjutan namun dengan model yang lebih futuristik.

“Orang-orang akan terus mengenakan pakaian yang mereka sukai sampai berantakan –artinya akan mengurangi sampah fesyen–. Saya melakukannya sendiri. Jadi segala sesuatu terkait fesyen akan terlihat sangat hancur, usang, hingga berkerut,” jelas Gvasalia.

Untuk menghadapi dinginnya udara di luar ruangan, ada avatar yang mengenakan puffer merah khas Balenciaga namun dikenakan miring ke satu bahu. Atau opsi mantel abu-abu kusut yang terbuat dari potongan-potongan kain.

Untuk koleksi kali ini Gvasalia tidak mau mengenakan aksesori atau busana yang terbuat dari bulu, baik itu asli atau sintetis. Ini seperti menunjukkan keseriusan Gvasalia untuk membuat produk yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Baca juga: M Missoni dan Yoox luncurkan kolaborasi fesyen berkelanjutan


 

Sejumlah model yang dipindai menjadi avatar dalam “Afterworld: The Age of Tomorow” memamerkan sejumlah koleksi Balenciaga untuk Fall 2021. (ANTARA/www.balenciaga.com)

Kemudian para gamers akan masuk ke dalam gua yang sangat gelap, di sini banyak avatar yang mengenakan busana berwarna hitam menyeramkan dan berjalan di atas air yang keruh. Ada avatar yang mengenakan hoodie khas universitas dengan tulisan-tulisan bergaya anak jalanan di bagian atasnya.

Dalam kegelapan gua Afterworld, gamer akan bertemu avatar Eliza Douglas, model Balenciaga yang melambangkan Gvasalia, mengenakan baju zirah lengkap dengan sepatu bot lapis baja bertumit tinggi. Eliza tampak sebagai Joan of Arc versi modern.

“Dia mengambil pedang dari batu, seperti dalam mitos Raja Arthur dari Inggris. Tapi dia adalah pejuang di jaman modern,” kata Gvasalia.

Baca juga: Tips IFC agar pelaku industri fesyen Indonesia tetap berdaya saing


 

Tangkapan layar Eliza Douglas, model Balenciaga yang melambangkan Gvasalia, mengenakan baju zirah lengkap dengan sepatu bot lapis baja bertumit tinggi. Eliza tampak sebagai Joan of Arc versi modern dalam “Afterworld: The Age of Tomorow”. (ANTARA/videogame.balenciaga.com)

Akhirnya, tampak sejumlah avatar suku Balenciaga, yang sebagian besar tampak mengenakan jaket dan aksesoris berlogo antariksa NASA, yang lain tampak dengan kaus yang dicetak dengan logo konvensi permainan. Para avatar ini akan mencapai puncak gunung dan melihat matahari terbit.

“Permainan berakhir dengan menarik napas, dan menghembuskan napas. Ini mengarah ke aplikasi pernapasan. Cakrawala tempat Anda bisa bernapas,” kata Gvasalia.

“Ini simbol di mana Anda seolah-olah kembali terhubung dengan keseimbangan alam. Saya percaya masa depan yang lebih spiritual yang memuat masa lalu yang terlupakan,” kata Gvasalia.

Baca juga: Desainer lokal bisa kreasikan wastra jadi fesyen berkelanjutan di ISEF

Baca juga: Perancang Indonesia & Greenpeace lelang barang berbahan daur ulang

Oleh Maria Rosari Dwi Putri

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © ANTARA 2020

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*

code