Selasa 22 Desember 2020, 15:00 WIB

TOKO Youssef Abdelkarim di salah satu jalan paling bersejarah di Baghdad, boleh dibilang adalah kapsul waktu secara harfiah. Ribuan jam tangan memenuhi toko kecil itu, dan menjadi tempat tiga generasi untuk memperbaiki berbagai arloji tua di Irak.

Sebuah etalase berdebu di Rasheed Street itu menampilkan satu baris jam tangan klasik lengkap dengan kotak penyimpanannya. Sementara itu tumpukan potongan barang berserakan di belakangnya dan yang lainnya tergantung di atas.

Di dalamnya, ada sejumlah jam tangan dalam ember plastik di lantai, dikemas dalam kotak karton di rak dan dimasukkan ke dalam koper.

Di sudut lainnya, di belakang meja kayu tua, Abdelkarim yang berusia 52 tahun sedang membungkuk di atas sebuah barang antik.

“Setiap jam tangan memiliki ciri khasnya sendiri. Saya berusaha melestarikannya semampu saya, seolah-olah itu adalah anak saya sendiri,” katanya kepada AFP, sambil menyipitkan mata melalui kacamata hitam berbingkai tebal.

Karim mulai memperbaiki jam tangan pada usia 11 tahun, setelah kematian kakek dari pihak ayah, yang membuka toko itu pada tahun 1940-an.

Kakeknya telah mewariskan usaha itu kepada putranya sendiri, yang mulai mengajar Karim untuk ikut mereparasi arloji-arloji tersebut.

Dia telah memperbaiki jam tangan model Swiss yang mahal, termasuk 10.000 euro merek Patek Philippes, serta Sigma, yang disebut Karim sebagai “jam tangan orang miskin”. Dia mengaku juga pernah memperbaiki arloji milik diktator Irak, Saddam Hussein yang ditakuti.

“Itu adalah jam tangan langka yang dibawa oleh istana kepresidenan, dengan tanda tangan Saddam di salah satu sisinya,” kenangnya.

Menurut cerita Karim, dulu di era 80-an, biaya perbaikan sebuah alrloji sebesar 400 dinar Irak  atau lebih dari US$1.000. Tetapi kini ongkosnya kurang dari satu dolar.

Memang banyak yang telah berubah sejak saat itu. Orang-orang menukar jam tangan analog mereka dengan model digital, lalu membuangnya sama sekali karena sudah dibenamkan dalam ponsel pintar.

Tapi, menurut Karim, jam tangan bukanlah artefak masa lalu. “Keanggunan seorang pria dimulai dari arloji dan sepatunya,” ujarnya kepada AFP sambil tersenyum.

Pernyataan Karim mungkin benar. Tokonya masih didatangi pelanggan dari segala usia, termasuk mantan menteri dan para kolektor. Bahkan, banyak anak muda di Irak yang datang ke tokonya membawa arloji  baru untuk diperbaiki.

“Semua orang menemukan apa yang mereka butuhkan di sini,” katanya bangga.

Dengan penglihatannya yang mulai terganggu, Karim mengaku kini hanya mampu memperbaiki lima arloji sehari. Padahal, di era 1980-an, dia sanggup menjual dan memperbaiki ratusan jam tangan setiap hari. Saat itu, Rasheed Street jadi pusat bisnis di siang hari dan malamnya menjadi tempat hangout anak muda.

Karim masih ingat teater terkenal, bioskop, dan kedai kopi di sekitar situ: “Mereka tidak pernah tutup.” ujarnya.

Saat itu, tokonya bersaing dengan lusinan toko lainnya, tetapi satu persatu mulai tutup pada 1990-an, ketika sanksi internasional melumpuhkan perekonomian warga Irak.

Kemudian, invasi AS  dan sekutunya pada  2003 yang menggulingkan Saddam telah memicu berbagai aksi kekerasan sektarian, termasuk bom mobil di Rasheed Street.

Karim dan keluarganya pun pindah untuk tinggal di lingkungan yang lebih aman, tetapi toko mereka tetap buka di jalan itu sampai sekarang. Tahun lalu, ketika Rasheed Street ditutup selama berbulan-bulan karena ada protes besar di dekat Tahrir Square, dia juga tetap bekerja.

“Saya buka sekali atau dua kali seminggu, karena polisi anti huru-hara sering bentrok dengan pengunjuk rasa di sini, tapi saya tetap datang,” katanya.

Di sekelilingnya, toko pakaian vintage atau toko buku telah tutup, berubah menjadi gudang atau toko yang menjual aksesoris mobil.

“Ciri-ciri jalan ini telah dhapus dan sebagian besar teman saya pindah. Tapi ada sesuatu yang berbeda yang membedakannya dari setiap tempat lain di Baghdad,” katanya.

Karim mengajari putranya, Yehya, 24, dan Mustafa, 16, untuk mengambil alih bisnis keluarganya ini.

Namun, dia bersikeras agar mereka mempertahankan toko itu apa adanya, dengan dinding retak membingkai pintu, rak berdebu, dan setumpuk arloji.

“Toko ini tidak berubah dalam 50 tahun, itulah yang melestarikan identitasnya,” kata Karim, bangga. (M-4)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*

code